Sabtu, 31 Agustus 2013

Part III

*nyambung lagi*

Pukul 06:22
Mereka bertiga sampai di gerbang sekolah. Keadaan sekolah belum terlalu ramai. Sesampainya di gerbang, Raisa turun dari sepeda Wisnu lalu berjalan pincang. Roknya yang tepat berada di atas lutut membuat lukanya nampak jelas walau telah dibalut sapu tangan Dista. Murid-murid yang lewat tampak jijik lalu bergumam dengan temannya yang lain.
Bu Hani, guru theater di SMP Erlangga yang kebetulan datang pagi, terkejut melihat bercak merah di lutut Raisa.
"Raisa, are you OK? You got an accident?" tanya Bu Hani dengan raut muka yang tampak cemas.
"I'm fine. Ini nggak sakit kok, Bu, cuma perih," kata Raisa sambil meringis. Sebenarnya luka itu amat sakit, tapi Raisa tak ingin membuat Bu Hani tambah cemas.
"Kenapa bisa gitu, Sa? Cerita dong sama Bu Hani," kata Bu Hani menatap mata Raisa dalam-dalam. Bu Hani sangat ingin tahu.
"Itu salah saya, Bu, saya nggak sengaja nabrak Raisa.." Wisnu yang menjawab. Ia ikhlas dihukum, karena memang Ia salah. Bu Hani menatap Wisnu tajam.
"Lain kali hati-hati ya, Nu, kasian nih Raisa.. Pasti nggak bisa ikut ekskul sepatu roda lagi," kata Bu Hani lalu menatap Raisa. Ya, Raisa memang bersahabat dengan sepatu roda sejak kecil. Selain sepatu roda, baru-baru ini Raisa sedang belajar skateboard. Tapi, dengan begitu bukan berarti Raisa perempuan yang tomboy. Justru Raisa sangat suka memakai aksesori-aksesori seperti anak perempuan lainnya yang membuat Ia tampak cantik.
"Bisa kok, Bu.. Ini lukanya kecil, kok," kata Raisa lalu tersenyum pada Bu Hani. Bu Hani sangat terpesona dengan kelembutan Raisa. Mau tidak mau Ia membalas senyuman Raisa.
"Sudah yaa, kalian masuk kelas sana. Saya masih banyak urusan. See you later," kata Bu Hani berlalu meninggalkan ketiga remaja yang dari tadi Ia tahan.

• • 

Setelah Bu Hani meninggalkan mereka, mereka berjalan lagi melewati halaman sekolah.
"Sa, gue sama Wisnu lewat sini yaa.." kata Dista. Dista dan Wisnu menuntun sepedanya melewati jalan menuju tempat parkir sekolah.
"Ehh, iyaa. Gue ke kelas ya," kata Raisa pada Wisnu dan Dista. Mereka bertiga satu kelas.
Sesampainya Raisa dikelas, "Sa, lutut lo nggak papa?" tanya Kenya, teman sebangku Raisa.
"Nggak papa, Ken, nggak sakit kok," kata Raisa sambil tersenyum. Raisa berjalan menuju loker kelasnya untuk menyimpan sepatu rodanya.
"Lo jatuh naik sepatu roda? Emm.. Coba gue tebak. Lo lupa teknik gimana biar nggak jatuh naik sepatu roda, terus lo jatuh. Bener kan?" tebak Kenya sambil membenahi posisi duduknya di meja.
"Enggak lah, gue nggak mungkin lupa. Udah, jangan bahas lutut ini lagi. Bahas yang lain dongg. Liburan lo kek," kata Raisa mendekati Kenya setelah menyimpan sepatu rodanya. Raisa juga ikut-ikut duduk di meja seperti Kenya. Mereka berdua tenggelam dalam cerita liburan Kenya.[]

*bersambung duluu*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar