Karena terlalu bersemangat, Dista dan Wisnu mengayuh pedal sepedanya kencang-kencang. Saat di perempatan, mereka tidak mengerem sepedanya. Mereka biarkan sepedanya melaju dengan kencangnya agar mereka bisa sampai di sekolah sesuai rencana.
Saking asiknya mereka kebut-kebutan, mereka tidak mengetahui ada anak perempuan dengan sepatu rodanya melaju hati-hati di pertigaan. Anak perempuan itu sudah berusaha memberhentikan sepatu rodanya. Tapi naas, Dista dan Wisnu baru menyadari keberadaan anak perempuan itu pada jarak 5 meter dari tempat anak itu berusaha berhenti. Kebetulan Wisnu, yang paling mungkin menabrak anak perempuan itu. Wisnu kelabakan mengerem sepedanya.
"WISNU!! AWAASSS...." Sayang sekali, tabrakan kecil itu tak terhindarkan.
SSREETT... BUGG.. DUMP
"Aaww.." Anak perempuan itu jatuh bersimpuh akibat tertabrak sepeda wisnu. Lutut anak perempuan itu penuh darah akibat terseret beberapa meter dari tempatnya berdiri tadi. Wisnu segera mendekati anak perempuan itu.
"Emm, maaf yaa.. Gue nggak sengaja. Ehh, elo, Sa??!! Sorry, Sa, lutut lo pasti sakit banget," Wisnu merasa bersalah. Ternyata anak perempuan itu adalah Raisa. Raisa hanya melirik wisnu dengan lirikan seperti akan menerkam Wisnu. Tapi Raisa bukan makhluk kanibal. Sehingga kejadian itu tak akan mungkin terjadi.
Karena tak ingin Wisnu bersalah sendirian, Dista menghampiri Wisnu dan Raisa dengan selembar sapu tangan putihnya. Dengan cermat, Ia membelit luka Raisa agar tidak terkena debu.
"Aaww.." kata Raisa memegangi betisnya sambil meringis kesakitan.
"Tenang, kalo udah agak lama nggak akan sakit kok," kata Dista menenangkan Raisa.
• • •
"Gara-gara kalian nih, gue nggak jadi sampe sekolah lebih awal.. Lagian harus yaa, pake acara nabrak cewe dulu??" kata Raisa dengan nada suara yg kesal.
"Lahh, kita mah juga pengen sampe sekolah lebih awal. Makanya tadi kita naik sepedanya kenceng-kenceng biar sampe sekolah lebih cepet," timpal Dista. Ia berusaha sabar menghadapi Raisa yang sedang tertimpa musibah ini. Belum sempat Raisa menyahut kata-kata Dista, Wisnu sudah menimpali.
"Gini deh, ini kan salah gue, gimana kalo lo bonceng gue aja, Sa, buat menebus kesalahan gue. Lo mau ke sekolah jalan kaki??" kata Wisnu. Ia tidak ingin dikatakan sebagai pengecut. Habis tabrak, tak mau tanggung jawab.
"Eemm.. Yaudah dehh," kata Raisa akhirnya.
Mereka bertiga berangkat bersama-sama[]
*bersambung yaa;) Capek*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar