Selasa, 15 Oktober 2013

Part IV

*nyambung*


teeettt.....teeettt.....teeettt...
Bel istirahat sudah berbunyi. Murid SMP Erlangga berhamburan keluar kelas menuju ke kantin. Tidak berbeda dengan Wisnu dan Dista, dua sejoli yang kemana saja selalu bersama, mereka juga menuju kantin.
"Bu, nasi soto dua sama es teh manis dua ya, bu.." kata Wisnu memesan makanan dan minuman pada Ibu kantin.
"Iya, Wisnu, kamu duduk aja, nanti Ibu anter," jawab Ibu kantin sambil sibuk menuangkan kuah soto pesanan murid-murid SMP Erlangga. Soto Ibu kantin itu terkenal sangat enak. Tak heran bila pada saat istirahat ibu kantin sangat sibuk melayani pesanan para murid.
Wisnu kembali ke tempat duduknya di hadapan Dista yg sibuk membaca koran. Ya, Dista memang gila teknologi dan olahraga. Kalau Wisnu, Ia gila musik. Walaupun berbeda, mereka berdua saling melengkapi.


"Yahh.. Kantinnya penuh," kata Kenya penuh kecewa. Kenya masih celingukan melihat sekeliling kantin mencari dua bangku kosong untuknya dan untuk Raisa.
"Ken, itu ada," kata Raisa menunjuk dua buah kursi disebelah Wisnu dan Dista. Letaknya lumayan jauh dari tempat Raisa dan Kenya berdiri.
"Nahh! Ayo, Sa, cepet," kata Kenya setengah berlari mendahului Raisa. Tentu saja Raisa tidak bisa berlari. Lututnya masih berdarah dan belum bisa ditekuk. Raisa berjalan gontai menyusul Kenya.
Kenya sudah lebih dulu sampai di bangku itu, sementara Raisa masih berusaha berjalan secepat mungkin.
"Oiya, gue lupa! Raisa nggak bisa lari.. Wisnu, Dista, jagain dua bangku ini buat gue sama Raisa yaa, please.." kata Kenya setengah manyun. Mukanya jadi terlihat lucu.
"Iyaa.. Buruan deh lo tuntun tuh temen lo, biar nggak nyusahin banyak orang karna jalannya lama," kata Wisnu. Seketika itu juga Kenya berlari menghampiri Raisa dan menuntunnya dengan hati-hati.
"Gitu-gitu juga karena lo, Nu," kata Dista sambil sibuk membaca koran. Wisnu menatap Dista penuh perhatian.
"Udah lah, Dis, jangan buat gue tambah bersalah," kata Wisnu lalu melanjutkan makannya kembali.
Kenya dan Raisa telah duduk di bangku sebelah Wisnu dan Dista.
"Hay, Raisa.. Lutut lo apa kabar?" kata Dista pada Raisa sambil melipat korannya.
"Hay, nggak ada perubahan sihh, but it's well," jawab Raisa disertai senyum. Wisnu masih sibuk melahap nasi sotonya tanpa memperdulikan kehadiran Raisa disebelahnya.
"Oh iya, Sa, Ken, lo mau pesen apa? Gue pesenin plus gue traktir dehh, mumpung gue lagi bawa uang lebih. Ayo, kalian mau pesen apa??" kata Dista pada Raisa dan Kenya. Wisnu terkejut mendengar pernyataan Dista.
"Makasih ya, Dis, aku mau makan bakso minumnya es jeruk," jawab Raisa penuh terimakasih.
"Kalo lo, Ken?" tanya Dista pada Kenya. Kenya tampak meneliti daftar menu yang ada di kantin itu.
"Emm... Gado-gado minumnya es lemonea. Makasih loh, dis," jawab Kenya.
"Okee, gue pesenin dulu yaa," kata Dista beranjak dari bangkunya. Baru 3 langkah berjalan, langkahnya dihentikan oleh Wisnu.
"Gue juga Dis, bakso sama es teh satu," kata Wisnu sambil meringis. Dista memutar bola matanya.
"Males banget," jawab Dista sambil melepas genggaman Wisnu lalu melangkah memesan makanan untuk Raisa dan Kenya. Dua perempuan di sebelah Wisnu tertawa cekikikan karena kejadian tadi.

*bersambung lagi{}*

Sabtu, 31 Agustus 2013

Part III

*nyambung lagi*

Pukul 06:22
Mereka bertiga sampai di gerbang sekolah. Keadaan sekolah belum terlalu ramai. Sesampainya di gerbang, Raisa turun dari sepeda Wisnu lalu berjalan pincang. Roknya yang tepat berada di atas lutut membuat lukanya nampak jelas walau telah dibalut sapu tangan Dista. Murid-murid yang lewat tampak jijik lalu bergumam dengan temannya yang lain.
Bu Hani, guru theater di SMP Erlangga yang kebetulan datang pagi, terkejut melihat bercak merah di lutut Raisa.
"Raisa, are you OK? You got an accident?" tanya Bu Hani dengan raut muka yang tampak cemas.
"I'm fine. Ini nggak sakit kok, Bu, cuma perih," kata Raisa sambil meringis. Sebenarnya luka itu amat sakit, tapi Raisa tak ingin membuat Bu Hani tambah cemas.
"Kenapa bisa gitu, Sa? Cerita dong sama Bu Hani," kata Bu Hani menatap mata Raisa dalam-dalam. Bu Hani sangat ingin tahu.
"Itu salah saya, Bu, saya nggak sengaja nabrak Raisa.." Wisnu yang menjawab. Ia ikhlas dihukum, karena memang Ia salah. Bu Hani menatap Wisnu tajam.
"Lain kali hati-hati ya, Nu, kasian nih Raisa.. Pasti nggak bisa ikut ekskul sepatu roda lagi," kata Bu Hani lalu menatap Raisa. Ya, Raisa memang bersahabat dengan sepatu roda sejak kecil. Selain sepatu roda, baru-baru ini Raisa sedang belajar skateboard. Tapi, dengan begitu bukan berarti Raisa perempuan yang tomboy. Justru Raisa sangat suka memakai aksesori-aksesori seperti anak perempuan lainnya yang membuat Ia tampak cantik.
"Bisa kok, Bu.. Ini lukanya kecil, kok," kata Raisa lalu tersenyum pada Bu Hani. Bu Hani sangat terpesona dengan kelembutan Raisa. Mau tidak mau Ia membalas senyuman Raisa.
"Sudah yaa, kalian masuk kelas sana. Saya masih banyak urusan. See you later," kata Bu Hani berlalu meninggalkan ketiga remaja yang dari tadi Ia tahan.

• • 

Setelah Bu Hani meninggalkan mereka, mereka berjalan lagi melewati halaman sekolah.
"Sa, gue sama Wisnu lewat sini yaa.." kata Dista. Dista dan Wisnu menuntun sepedanya melewati jalan menuju tempat parkir sekolah.
"Ehh, iyaa. Gue ke kelas ya," kata Raisa pada Wisnu dan Dista. Mereka bertiga satu kelas.
Sesampainya Raisa dikelas, "Sa, lutut lo nggak papa?" tanya Kenya, teman sebangku Raisa.
"Nggak papa, Ken, nggak sakit kok," kata Raisa sambil tersenyum. Raisa berjalan menuju loker kelasnya untuk menyimpan sepatu rodanya.
"Lo jatuh naik sepatu roda? Emm.. Coba gue tebak. Lo lupa teknik gimana biar nggak jatuh naik sepatu roda, terus lo jatuh. Bener kan?" tebak Kenya sambil membenahi posisi duduknya di meja.
"Enggak lah, gue nggak mungkin lupa. Udah, jangan bahas lutut ini lagi. Bahas yang lain dongg. Liburan lo kek," kata Raisa mendekati Kenya setelah menyimpan sepatu rodanya. Raisa juga ikut-ikut duduk di meja seperti Kenya. Mereka berdua tenggelam dalam cerita liburan Kenya.[]

*bersambung duluu*

Jumat, 30 Agustus 2013

Part II

*sambungannya yahh;)*

Karena terlalu bersemangat, Dista dan Wisnu mengayuh pedal sepedanya kencang-kencang. Saat di perempatan, mereka tidak mengerem sepedanya. Mereka biarkan sepedanya melaju dengan kencangnya agar mereka bisa sampai di sekolah sesuai rencana.
Saking asiknya mereka kebut-kebutan, mereka tidak mengetahui ada anak perempuan dengan sepatu rodanya melaju hati-hati di pertigaan. Anak perempuan itu sudah berusaha memberhentikan sepatu rodanya. Tapi naas, Dista dan Wisnu baru menyadari keberadaan anak perempuan itu pada jarak 5 meter dari tempat anak itu berusaha berhenti. Kebetulan Wisnu, yang paling mungkin menabrak anak perempuan itu. Wisnu kelabakan mengerem sepedanya.
"WISNU!! AWAASSS...." Sayang sekali, tabrakan kecil itu tak terhindarkan.
SSREETT... BUGG.. DUMP
"Aaww.." Anak perempuan itu jatuh bersimpuh akibat tertabrak sepeda wisnu. Lutut anak perempuan itu penuh darah akibat terseret beberapa meter dari tempatnya berdiri tadi. Wisnu segera mendekati anak perempuan itu.
"Emm, maaf yaa.. Gue nggak sengaja. Ehh, elo, Sa??!! Sorry, Sa, lutut lo pasti sakit banget," Wisnu merasa bersalah. Ternyata anak perempuan itu adalah Raisa. Raisa hanya melirik wisnu dengan lirikan seperti akan menerkam Wisnu. Tapi Raisa bukan makhluk kanibal. Sehingga kejadian itu tak akan mungkin terjadi.
Karena tak ingin Wisnu bersalah sendirian, Dista menghampiri Wisnu dan Raisa dengan selembar sapu tangan putihnya. Dengan cermat, Ia membelit luka Raisa agar tidak terkena debu.
"Aaww.." kata Raisa memegangi betisnya sambil meringis kesakitan.
"Tenang, kalo udah agak lama nggak akan sakit kok," kata Dista menenangkan Raisa.

• • 

"Gara-gara kalian nih, gue nggak jadi sampe sekolah lebih awal.. Lagian harus yaa, pake acara nabrak cewe dulu??" kata Raisa dengan nada suara yg kesal.
"Lahh, kita mah juga pengen sampe sekolah lebih awal. Makanya tadi kita naik sepedanya kenceng-kenceng biar sampe sekolah lebih cepet," timpal Dista. Ia berusaha sabar menghadapi Raisa yang sedang tertimpa musibah ini. Belum sempat Raisa menyahut kata-kata Dista, Wisnu sudah menimpali.
"Gini deh, ini kan salah gue, gimana kalo lo bonceng gue aja, Sa, buat menebus kesalahan gue. Lo mau ke sekolah jalan kaki??" kata Wisnu. Ia tidak ingin dikatakan sebagai pengecut. Habis tabrak, tak mau tanggung jawab.
"Eemm.. Yaudah dehh," kata Raisa akhirnya.
Mereka bertiga berangkat bersama-sama[]

*bersambung yaa;) Capek*

Rabu, 28 Agustus 2013

Part I

Waktu sudah menunjukan pukul 06.00. Raisa telah bersiap di depan rumah, menunggu kedatangan angkutan umum. Ya, biasanya Raisa berangkat diantar supirnya. Tetapi untuk hari ini, supirnya ijin karena istrinya melahirkan. Orang tua Raisa sangat sibuk, jadi mau tidak mau Raisa harus naik angkutan umum ke sekolah. Memang, sih, jarak dari rumah ke sekolah Raisa tidak terlalu jauh. Bila ditempuh dengan mengendarai sepeda hanya 15 saja. Tapi sayangnya Raisa tidak memiliki sepeda.
15 menit berlalu. Tidak ada angkutan yang lewat. Tidak mau lebih lama menunggu, Raisa berlari masuk ke dalam rumah mengambil sepatu rodanya lalu memakainya. Ya, Raisa berangkat ke sekolah dengan sepatu roda.

• • •

"Dihabisin ya, Nu," kata seorang wanita pada anaknya.
"Iya, ma," jawab anaknya.
Wisnu mempercepat sarapannya. Ia ingin datang pagi pada hari pertama sekolahnya. Setelah libur 3 minggu, Ia sangat merindukan suasana sekolah. Pasti hal ini juga sering dialami anak-anak sekolah pada umumnya.
"Ma, Wisnu berangkat ya," kata Wisnu sambil menyambar tangan mamanya lalu menciumnya.
"Iya, hati-hati ya, Nu," kata mama Wisnu. Wisnu sudah berjalan ke garasi rumahnya untuk mengeluarkan sepeda. Ia lebih senang berangkat sekolah menaiki sepeda daripada diantar seorang supir.

• • 

Dista telah mengayuh sepedanya sekitar 500m dari rumahnya. Nafasnya terengah-engah karena Ia terlalu cepat mengayuh sepeda. Lima menit kemudian, Ia melewati rumah Wisnu. Ia menoleh sejenak. Siapa tahu Wisnu sudah siap berangkat.
Terlihat Wisnu sudah mengeluarkan sepedanya dari garasi, Dista berhenti lalu menunggu Wisnu keluar dari halaman rumahnya. Sadar bahwa dirinya ditunggu, Wisnu mempercepat kayuhannya untuk menghampiri Dista. Mereka berdua berangkat bersama.